Rabu, 21 Januari 2015

Copas Cinta

Cinta itu buta. Ketika kita jatuh cinta, apa yang kita rasakan, pikirkan, bicarakan, lakukan, semua tertuju kepada dia yang tercinta. Seolah kehidupan hanya berpusat pada dia, dia dan dia. Kalau bisa, kita ingin memberikan segalanya, hanya untuknya.

Manusia cenderung mencintai seseorang yang memiliki banyak kecocokan dengan dirinya. Misalnya sama-sama menyukai jenis buku yang sama, suka film yang sama, sama-sama suka makan bakso, sama-sama suka traveling dan fotografi, sama-sama suka hujan-hujanan.. Dan banyak kesamaan lain yang membuat kita cenderung nyaman untuk bersamanya.

Jatuh cinta itu wajar, apalagi jatuh cinta pada ia yang telah dihalalkan dalam ikatan pernikahan. Selain indah, juga berpahala. Tapi menurut saya, mencintai itu juga harus pakai logika dan akal sehat. Mencintai juga tidak berarti memaksakan pasangan harus sama dengan kita, atau sebaliknya. Tiap orang itu unik, kenapa harus, wajib, kudu sama dan seragam satu dengan lainnya?

Ketika pasangan tiba-tiba ngefans berat sama makanan khas jepang, misalnya.. Kenapa juga kita harus ikutan ngefans, padahal baru nyicipin sedikit aja rasanya udah eneg banget... sampai-sampai kapok mau nyobain lagi. Karena mungkin, masakan jepang bukan selera kita. Ya, kalau pasangan request minta dibuatkan masakan jepang, No problemo... buatkan aja kalau memang kita bisa. Tapi nggak perlu juga pura-pura doyan banget padahal habis makan langsung ke belakang cuma buat muntah.

Ketika pasangan menyukai jenis buku tertentu, lantas kita berusaha mati-matian ikut menyukainya. Hunting ke toko buku, berlama-lama di rak buku cuma penasaran kepengen tau, “Ini buku isinya apaan sih, kok dia bisa suka banget..” . Dan pas udah baca sekilas, “Apa menariknya buku ini, kok aku belum nemu yah.. Tapi nggak apa deh, aku beli aja, siapa tahu lama-lama jadi tertarik..”. Dan setelah hitungan bulan, buku itu masih teronggok rapi di sudut meja belajar. Berdebu.
Tabiat manusia adalah mencintai apa-apa yang menjadi kecintaan kekasihnya. Ibnul Qayyim al Jauziyyah dalam buku fenomenal beliau Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jika ternyata apa yang disukai pasangan akhirnya dapat kita sukai juga, alhamdulillah. Namun jika tidak, kenapa harus memaksa diri untuk menyukainya?

Tentunya kecintaan dalam perkara yang sifatnya mubah, ya.. bukan yang wajib. Kalau perkara yang wajib, mau tidak mau harus kita sukai dan laksanakan karena perintahnya langsung dari Alah Azza wa Jalla. Misalnya, menutup aurat dengan hijab sempurna. No excuse, mau pasangan suka atau tidak, kita wajib mematuhinya. “Bukanlah pasangan itu yang selalu sama segala sesuatunya. Tapi pasangan itu seperti sepasang sepatu, saling melengkapi satu sama lain. Bila satunya hilang, ia tak lagi utuh adanya. Dan seseorang yang telah kita pilih itu.. adalah sepotong kepingan lain, yang membuat kita merasa lengkap dan utuh.” Banyak cara untuk menyenangkan hati ia yang kita cintai, tapi bukan berarti harus kehilangan jati diri. Dalam sebuah hubungan, ada fase yang pasti harus dilalui, yaitu fase adaptasi atau penyesuaian. Dan pernikahan adalah proses adaptasi seumur hidup. Menyerap hal-hal positif dari pribadi pasangan dan memperbaiki sisi negatifnya. Tanpa harus mengubah diri menjadi seseorang yang lain, sesuatu yang sama sekali bukan kita.

Mencintai adalah penerimaan. Mencintai adalah penghargaan terhadap yang dicintai, termasuk penghargaan pada diri sendiri. :)

@antika_alf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar